Pada setiap akhir bulan Ramadhan atau waktu menjelang lebaran, masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mudik. Mudik atau istilah lainnya disebut sebagai pulang kampung memang telah menjadi kebiasaan sejak lama. Namun pada momen lebaran dua tahun terakhir, kegiatan mudik ini sempat menuai polemik, lantaran masyarakat Indonesia masih menghadapi wabah pandemi Covid-19. Mudik disinyalir dapat menjadi salah satu kelompok (klaster) baru dalam peyebara infeksi virus tersebut. Permasalahan virus ini menjadi permasalahan baru dalam proses hilir-mudik masyarakat, sebenarnya dalam perayaan lebaran-lebaran sebelumnya juga terdapat beberapa persoalan, mulai dari kemacetan saat awal mudik, kecelakaan, serta peningkatan penduduk di perkotaan pasca lebaran (lantaran terjadi urbanisasi).
Persoalan mudik ini ditimbulkan akibat masyarakat perkotaan
yang melakukan perjalanan ke pedesaan untuk merayakan lebaran. Perpindahan
penduduk ini bisa dilihat sebagai suatu fenomena sosial, yang bermulai dari
adanya masyarakat yang menempati suatu perkotaan. Jika ditarik lebih jauh lagi,
fenomena ini berawal dari perubahan peradaban manusia tradisional yang
sebelumya berpidah-pindah kemudian mentap di suatu area tertentu. Pertimbangan
seseorang dalam menempati suatu daerah adalah untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, seperti ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Pada masa modern ini perilaku manusia untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh proses industrialisasi. Begitu pula
dengan mobilisasi manusia dari desa ke kota, demi memenuhi kebutuhan
ekonominya. Pertumbuhan ekonomi yang
belum meyentuh daerah, serta industrialisasi yang belum merata, membawa
masyarakat desa berpindah ke kota. Pola perekonomian di Indonesia juga masih
setral, desa sebagai masyarakat agraris yang bertani atau berkebun, serta
masyarakat kota yang cenderung heterogen dan bekerja di bidang industri.
Persoalan tersebut menjadi masalah yang cukup serius di Indonesia, karena
kota-kota yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi seakan tak mampu lagi
menampung pendatang. Alhasil masalah turunan lain pun muncul di pusat-pusat
ekonomi seperti, pengangguran, kriminalitas, pemukiman kumuh, serta masalah
kepadatan lain.
Semenjak beralihnya pola kehidupan masyarakat dari yang
sebelumnya agraris menuju masyarakat industri, menjadikan sebuah konstruksi
pemikiran dalam masyarakat. Segala hal yang berhubungan dengan idustri dianggap
lebih baik dan modern, sedangkan kegiatan agraria dianggap kurang menjanjikan
dan kuno. Hal tersebut bila dihubungkan lebih jauh, turut memegaruhi pola pengerusakan
lingkungan yang saat ini terjadi semakin masif.
Dari pola pemikiran tersebut akhirnya masyarakat memutuskan
untuk melakukan urbaisasi. Max Weber mencirikan kota sebagai pusat perekonomian
masyarakat, kosmopolitan, serta memiliki hukum sendiri (nilai/norma). Sementara
lebih kompleks lagi, Louis Wirth menjelaskan bahwa kota tidak hanya sekedar
aspek fisik yang dibatasi oleh ruang, dia mendefinisikan kota sebagai cara
kehidupan (mode of life). Dominasi kota telah melampaui batasan-batasan
ruang dari kota itu sendiri. Perluasan makna tersebut menjadikan mudik dan
urbanisasi tidak hanya sekedar berpindah tempat, melainkan bagaimana dominasi
kota mempegaruhi pola perilaku masyarakat disekitarnya. Melihat aktifitas
masyarakat sekarang, seakan semua orang telah melakukan urbaisasi terhadap
dominasi perkotaan.
Melihat mudik sebagai suatu fenomena sosial yang terjadi
saat lebaran, hal tersebut juga sangat dipengaruhi oleh aspek budaya dan agama.
Budaya dan agama yang turut mempegaruhi perilaku mudik masyarkat Indonesia tak
terlepas pula oleh dominasi (hegemoni) kelompok lokal. Islam di Indonesia yang
pertama memerkenalkan istilah mudik. Kelompok masyarakat lain pun turut
terdampak oleh perilaku tersebut. Dari segi budaya, kita tahu bersama bahwa
budaya dominan di Indonesia adalah budaya jawa, filsafah jawa yang mungkin
relevan dengan fenomena mudik ini adalah mangan gak mangan sing penting
kumpul. Dari dua pengaruh tersebutlah yang menjadikan mudik sebagai hal
yang wajib dilakukan setiap momen lebaran.
Kembali pada peristiwa wabah Covid-19 yang saat ini sedang
melanda Indonesia, hampir dipastikan masyarakat akan menempuh berbagai cara
demi berkumpul degan keluarga di kampung halaman. Semua faktor diatas telah
menghapus ketakutan masyarakat terhadap pandemi yang sedang teradi. Kebijakan
yang dikeluarkan pemerintah dirasa juga masih memiliki celah untuk terjadinya
hal tersebut. Budaya yang telah tertanam sangat lama pada masyarakat saat ini
menjadi musuh bagi pemerintah dan tenaga kesehatan yang memiliki visi untuk memutus
mata rantai penyebaran Covid-19. Budaya yang tertanam kuat seharusnya dibarengi
pula dengan sosialisasi yang kuat serta pencerdasan terhadap masyarakat akan
bahayanya dampak dari virus Covid-19 ini.
0 Comments