Sudah cukup lama Burhan terbaring di atas kasur menahan rasa sakit yang menyiksanya. Keluarganya dibuat sangat khawatir hingga merelakan waktu mereka hanya untuk mengurus dirinya yang lemah tak berdaya, karena baru kali ini dia jatuh sakit hingga tidak bisa melakukan apapun selain terlentang diatas ranjang. Bukan berarti keluarganya tidak melakukan usaha lebih demi kesembuhannya. Tapi pada kenyataannya, rumah sakit terbaik pun angkat tangan menangani penyakitnya. Bahkan mereka sampai tidak mengenali penyakit jenis apa dalam kasus ini, benar-benar membuat semua orang cemas.

Sampai-sampai salah satu dokter yang dikenal dapat menyembuhkan berbagai penyakit pun memvonisnya tidak bisa lagi diselamatkan dan hanya menunggu waktu saja sampai Burhan kalah dengan penyakitnya.

“Pak, aku nggak percaya kalau anak kita bakal berakhir seperti ini, Pak!” sang ibu terus menangis tidak percaya dengan kenyataan jika Burhan akan meninggalkan mereka.

Sementara itu, bapak hanya bisa diam tanpa bisa menjawab perkataan ibu sedikit pun, rasa sedihnya terlalu dalam sehingga tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan perasaannya.

Suasana menjadi hening sesaat, pada akhirnya bapak memberanikan berbicara kepada istrinya untuk tetap bersabar.

“Sudahlah, buk. Bagaimana pun juga Burhan adalah anak yang dititipkan tuhan kepada kita, yang bisa kita lakukan hanya meminta agar keajaiban datang”

.........

“Han Burhan, bangunlah” Sayup-sayup terdengar suara yang memanggil namanya. Suara itu terus memanggil Burhan yang terbaring lemah menunggu jemputan malaikat menuju alam baka.

Sedikit demi sedikit, Burhan memaksa matanya untuk terbuka melihat dunia yang cukup lama ia tinggalkan. Matanya akhirnya terbuka, dalam pandangannya hanya ada seorang yang duduk sambil menghisap daun tembakau yang digulung kertas.

“Aaa ku dimaaa na? Diii mana aa yah dan ibuu ku?” Ucapnya tertatih-tatih sambil memasang muka kebingungan.

“Dirimu yang asli masih terbaring diatas kasur, ini adalah dunia peralihan antara hidup dan mati yang hanya ada di dalam mimpimu. Bersyukurlah karena tuhan masih memberimu kesempatan hidup cukup lama lagi, karena ada sesuatu hal yang harus kau lakukan di duniamu” Orang misterius itu menjelaskan tentang keadaan yang terjadi.

Burhan tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Alih-alih memahami perkataan orang misterius tadi, dia bahkan belum bisa mengerti dimana dirinya sekarang berada, yang terlihat hanya hamparan pasir yang tak berujung.

..........

“Pakkk!! Pakkk!!! Burhan bangun pakkk. Syukurlahh pak, Burhan sudah bangun dan panasnya sudah hilang” Ibu berteriak kegirangan melihat anak kesayangannya telah sembuh dan bisa bangun lagi, mungkin inilah keajaiban yang tuhan berikan kepada mereka.

Tak ada kata yang terucap dari bapak, namun beliau langsung bersujud mensyukuri kesembuhan anaknya yang bisa kembali dalam kehidupan mereka lagi.

“Pak, Buk, berapa lama aku tertidur disini?” Burhan mencoba memulai percakapan dengan mereka.

“Untuk saat ini, lebih baik dirimu tidak perlu memikirkan hal tersebut terlebih dahulu, Nak. Yang terpenting berkat keajaiban dari tuhan kepada kita, kamu bisa kembali bangun dan berbicara dengan kami lagi seperti sekarang” Jawab bapak yang tak kuasa menahan tangis bahagia.

Namun, Burhan masih dibuat bingung dengan kejadian yang dia alami didalam mimpinya. Meskipun itu hanyalah mimpi, tapi dia merasa seperti sesuatu yang nyata. Terlebih lagi mengenai orang misterius yang berkata bahwa tuhan masih memberinya kesempatan hidup karena masih ada sesuatu hal yang harus ia lakukan.

“Han, Burhan! Hei, jangan melamun, Nak. Sekarang kamu cepat bergegas mandi dan ibu akan menyiapkan makanan terbaik untuk menyambut kesembuhanmu, kita akan bersenang-senang malam ini, Nak” Ibu sungguh bersemangat kali ini, tidak seperti biasanya yang hanya dirundung kesedihan di setiap harinya.

“Iya, Bu” Burhan hanya menjawab dengan singkat sembari bergegas untuk mandi.

.........

Malam telah tiba, hidangan nikmat buatan ibu pun disajikan untuk menyambut kembalinya anak kesayangannya dari tidur panjang. Burhan masih belum faham dengan apa yang telah terjadi, namun perlahan-lahan dia mencoba untuk melupakannya dan ikut memilih untuk bersenda gurau bersama orang tuanya.

“Kamu benar-benar memperoleh keajaiban dari tuhan, Nak. Ternyata tuhan benar-benar ada” Ujar ibu dengan wajah yang sungguh bersemangat.

“Memangnya apa yang telah terjadi Buk, Pak?” Burhan kebingungan.

“Sebenarnya, kamu sudah tidur disana lebih dari satu minggu lamanya, Nak. Bapak dan ibu sudah mencoba membawamu kesana kemari demi mencari seseorang yang bisa menyembuhkanmu. Sayangnya, tidak ada satu pun yang sanggup mengobatimu, bahkan tidak ada yang tahu jenis penyakit apa yang menimpamu. Pada akhirnya, aku dan ibumu ini hanya bisa meminta keajaiban dari tuhan agar berkenan membuatmu bangun dan bisa bersenang-senang bersama lagi seperti sekarang” Bapak mencoba menjelaskan keadaan yang terjadi.

Suasana menjadi hening sesaat

Mendengar mereka membicarakan keajaiban yang diberikan tuhan padanya membuat ia kembali ingat tentang perkataan seseorang dalam mimpinya yang juga mengatakan hal yang kurang lebih sama pada saat ini.

“Bagaimana pun juga, keajaiban yang paling indah untukku adalah bisa kembali tersenyum bersama dengan kalian” Sahut Burhan mencoba memperbaiki suasana.

Pada akhirnya mereka pun tersenyum dan masing-masing mempersiapkan diri untuk kembali beristirahat karena hari sudah mulai larut malam.

..........

Tiga hari berlalu, Burhan kembali menjadi seseorang yang sehat setelah bangun dari tidur panjangnya. Hari-harinya dihabiskan dengan melakukan pekerjaan rumah, sebenarnya ia sedang menyenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi. Namun karena kondisi, dirinya dianjurkan oleh orang tuanya agar beristirahat cukup lama lagi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Cerita yang sebenarnya baru saja dimulai.

“Bagaimana, Han? Sebentar lagi dirimu akan melakukan hal yang membuatmu sedikit kerepotan. Anggap saja ini penghapusan dosa selama kau hidup, semoga saja tuhan tidak salah memilihmu”

“Negerimu mulai terombang-ambing oleh perubahan zaman yang  tiada hentinya. Sebagai seorang pelajar sepertimu, mestinya dirimu sudah mengerti apa yang terjadi. Dahulu, negerimu seperti benteng yang sangat kokoh yang berfungsi melindungi orang-orang yang didalamnya. Sayangnya, benteng itu sekarang sudah mulai keropos karena dirusak oleh orang-orangnya sendiri” Ujar seseorang yang hadir di dalam mimpinya.

“Kalau boleh bertanya, sebenarnya siapa dirimu itu? kenapa aku yang dipilih?” Burhan meminta penjelasan.

“Hahaha sudahlah, kau sudah tidak punya banyak waktu lagi. Lakukanlah dengan segenap rasa didalam tubuhmu. Oh iya, kuperingatkan dirimu agar tidak sampai mengecewakan tuhan yang telah memberikanmu keajaiban, oke!”

Orang itu mengalihkan pembicaraan sambil mengelus kepala Burhan dan memberikan senyuman hangat.

“Baiklah, aku akan melakukan apapun untuk menunjukkan rasa terima kasihku pada tuhan atas keajaiban dan kebesarannya” Burhan menjawab dengan mantab.

Orang misterius tadi pun hanya tetap tersenyum puas mendengar jawaban Burhan.

Setelah itu, dunia tiba-tiba menjadi gelap gulita. Tak lama, kegelapan pun hilang dan seketika itu juga muncul sebuah pertempuran dimana semua orang dengan semangat maju bertempur tanpa menunjukkan rasa ragu atau pun takut sedikit pun.

Burhan semakin bingung dengan apa yang terjadi, tapi anehnya dia tidak merasa asing dengan tempat yang digunakan orang-orang itu bertempur. Setelah berfikir cukup lama, ternyata tempat itu adalah daerah yang ia tinggali saat di dunia nyata, bedanya hanya belum banyak bangunan yang berdiri dan sejauh mata memandang akan dipenuhi pepohonan layaknya tengah berada di hutan.

Orang yang tadi bersamanya pun menghilang juga. Tak tahu dengan apa yang harus dilakukan, akhirnya dia berjalan mencari tempat yang cukup aman untuk dirinya bersembunyi dari peperangan dan mengumpulkan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Ia terus berjalan mencari sebuah tempat dimana orang-orang biasa berkumpul, yang ditemuinya hanya pepohonan dan semak-semak yang tiada habisnya. Perlahan-lahan dia mulai kehilangan hasrat untuk mencoba memahami keadaannya sekarang.

“Persetan dengan semua ini, aku sudah lelah. Jika memang ini benar-benar mimpi, aku hanya harus menunggu sampai diriku yang asli terbangun dari tidurnya” Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan berdiam diri diantara pepohonan dan semak belukar.

Burhan terus diam hingga hari sudah sore, ia tambah dibuat bingung dengan perasaan takut dan laparnya.

“Apakah ini benar-benar mimpi?” Ia berteriak keras agar ada seseorang yang bisa mendengar dan menjawab pertanyaannya.

“Duarrrrrrrrr” Muncul suara ledakan yang tak jauh dari tempatnya berada, puluhan langkah kaki terdengar mendekat.

“Mundurrr, munduurrr” Terlihat banyak orang berteriak dan berlarian menujunya, atau lebih tepatnya melarikan diri dari asal ledakan.

Seseorang yang penuh luka di tubuhnya menghampiri Burhan. “Apa yang kau lakukan disini, cepatlah mundur. Kita tidak punya banyak waktu untuk menyelamatkan nyawa kita”

Mereka pun berlari hingga sampai pada sebuah gua yang dipenuhi semak-semak.

“Kita sudah sampai, kita akan aman jika berada disini untuk sementara waktu. Tapi cepat atau lambat mereka pasti akan menemukan tempat ini” Seseorang yang penuh luka tadi mencoba menenangkan semuanya.

Semua orang lalu saling kerja sama, ada yang memasak, mengobati rekannya yang terluka, dan membuat api untuk menghangatkan diri di malam yang dingin.

“Hei anak muda yang disana, siapa dirimu? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya” Seseorang yang penuh luka tadi mencoba mengajaknya bicara.

Burhan hanya diam, seakan-akan mulutnya terkunci rapat saat ingin menjelaskan asal keberadaannya.

“Hei, Nak! Jangan hanya diam, ada yang mencoba bertanya kepadamu” Seseorang lain dalam rombongan tadi menegurnya.

“Hahaha, sudahlah jangan terlalu kasar pada seorang pemuda sepertinya. Kita yang sudah tua ini hanya bisa mengorbankan raga dan nyawa. Mereka yang masih muda bisa mengisi kemenangan kita dan menjadi penerus perjuangan kita”

“Hei, nak. Kalau boleh aku hanya ingin tahu namamu. Sedangkan namaku adalah Fajar” Orang yang terluka tadi ternyata bernama Fajar dan meminta Burhan untuk memperkenalkan namanya saja.

“Namaku Burhan, mohon maaf sebelumnya atas ketidaksopanan saya” Burhan mengenalkan dirinya sekaligus meminta maaf.

“Kalau boleh bertanya, kita sekarang ada di tahun berapa dan mengapa kalian bertempur?” Burhan ganti bertanya.

Semua orang mendadak heran dengan pertanyaanya. Suasananya menjadi hening sesaat.

“Hahaha pertanyaanmu itu seperti orang yang datang dari masa depan saja, peperangan ini sudah berlangsung sejak 10 abad lamanya. Sekarang kita berada di tahun 2038, dan peperangan masih tetap saja berlanjut. Sebenarnya tidak ada lagi yang mengharapkan perang ini berlangsung, tapi karena semuanya telah menjadi kacau. Tidak ada pilihan lain selain memenangkan peperangan dan mengambil keuntungan untuk kita, dunia ini benar-benar membutuhkan perdamaian” Pak Fajar menjawab.

“2038? Berarti saat ini aku berada 100 tahun yang lalu. Dimana dunia hanya berisikan kerusakan, saling membunuh untuk hidup. Teknologi militer berkembang pesat didalam era ini, manusia mampu membuat senjata yang cukup untuk memusnahkan 10.000 nyawa hanya dalam waktu 1 menit. Di zamanku, teknologi semacam itu sudah dilarang dan dimatikan karena sangat berbahaya. Tidak ada peperangan, semua hidup damai. Dunia berhenti berperang pada tahun... uhuk uhuk”

Burhan dengan bersemangat menjelaskan keadaan dari zamannya berasal, namun ia tidak bisa melanjutkan bicaranya karena ada sesuatu yang menghalanginya untuk menceritakan kebenaran  yang ada.

Apakah ini benar-benar mimpi? Ataukah mungkin sebuah kenyataan? Tidak ada yang tahu.

..........

“Pak, Buk. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan dengan kalian” Burhan ingin menceritakan tentang apa yang telah menimpanya.

“Ada apa nak, kenapa wajahmu terlihat sedikit muram?” Tanya ibu.

Burhan berfikir ulang untuk menjelaskan semuanya, dia merasa jika belum waktunya untuk membicarakan hal ini.

“Hahaha tidak, Bu. Aku hanya ingin berjalan-jalan keluar rumah”

“Oo kalau pengen keluar rumah ya silahkan, tapi jangan sampai terlalu lelah”

“Iya, Bu”


 

 

...........

“Ada apa, Han?” Pak Fajar merasa penasaran dengan lanjutan cerita Burhan.

“Aku juga tidak tahu, tapi ada sesuatu yang mengganjal ketika aku ingin memberitahu kalian tentang waktu dimana peperangan telah berhenti” Burhan menjelaskan apa yang dia rasakan.

“Hmmmm, baiklah. Kita juga tidak terlalu memperdulikan kapan kita akan menang, tapi ketika mendengar ceritamu, aku menjadi lebih bersemangat dari biasanya. Semoga kau memang benar-benar datang dari masa depan”

Pak Fajar menjadi sumringah dan optimis untuk melanjutkan perjuangannya.

“Semuanya!! Perjuangan kita akan terus berlanjut sampai masa yang kita idam-idamkan datang. Tidak peduli jika kita tidak bisa menikmati hasil perjuangan kita. Kuakui jika hal ini sedikit naif, tapi mari kita membuka jalan untuk para penerus kita!” Pak Fajar semakin menggebu-gebu.

Setelah berbincang cukup lama, mereka semua pun beranjak tidur tak terkecuali Burhan dan Pak Fajar.

“Semoga kita bermimpi indah di dalam malam yang penuh keajaiban ini” Burhan bergumam di dalam hati dan merasa bahagia bisa melihat semangat mereka yang tiada habisnya.

Di dalam gua yang dingin yang diselimuti gelap malam, mereka tertidur membawa harapan yang selama ini telah lama diimpikan.

.........

Sinar matahari mulai terlihat dan menyoroti tubuh Burhan yang tengah tertidur pulas, dia terbangun dan membuka mata dengan semangat yang masih terngiang-ngiang karena melihat kepercayaan diri para pejuang seperti halnya Pak Fajar. Namun, saat dia membuka mata sudah tidak ada orang disekitarnya. Terlebih lagi, dia sudah tidak lagi di dalam gua melainkan berada di dalam ruangan yang serba berantakan.

Suasananya sungguh berbeda saat ini, ketika dia melihat keluar jendela yang ditemuinya hanya suasana kota yang sepi dan berantakan.

“Mungkinkah ini juga mimpi?” Burhan bertanya pada dirinya sendiri.

Semakin penarasan dengan apa yang terjadi, dia memberanikan diri untuk keluar dari ruangan yang berantakan tadi.

“Kau sudah bangun rupanya, maafkan aku jika tempat ini berantakan. Cuma ini satu-satunya tempat yang bisa kupakai untuk berpulang dengan tenang” Seseorang berbicara kepada Burhan sembari merapikan rumah yang berantakan itu.

“Ah, tidak apa-apa, terima kasih atas tempatnya. Omong-omong kenapa aku bisa sampai disini?” Burhan penasaran dengan apa yang terjadi.

“Duduklah, sangat tidak nyaman jika kita berbincang dengan berdiri seperti ini. Sebentar, aku akan membuatkan teh” Orang itu tersenyum dan berhenti merapikan rumahnya dan pergi membuatkan teh.

“Baiklah” Burhan menjawab sembari merebahkan tubuhnya di kursi.

Tidak butuh waktu lama orang itu menyiapkan teh untuk mereka berdua, dia ikut duduk dan menuangkan teh untuknya dan untuk Burhan.

“Jadi bagaimana ceritanya?” Burhan terlihat tidak sabar untuk mendengar cerita dari orang itu.

“Sebelumnya, perkenalkan namaku adalah Laila. Sebenarnya aku tidak hidup di daerah ini, rumah ini adalah rumah kakekku yang sudah tiada sejak ibuku masih bayi. Jadi aku memutuskan untuk merawat rumah ini karena rumah asliku telah digusur oleh para perampok”

Orang itu ternyata bernama Laila, dia bercerita sambil meneteskan air mata namun bibirnya masih tetap tersenyum kepada Burhan.

“Aku menemukanmu pingsan disamping rumah ini, kupikir jika dirimu bukanlah orang jahat sehingga aku membawamu kedalam, maafkan aku jika lancang. Oh iya, siapa dirimu?” Laila ganti bertanya.

“Ah tidak masalah, aku yang harusnya meminta maaf dan berterima kasih karena telah merepotkanmu. Namaku Burhan, aku tidak tau apa yang telah terjadi pada diriku”

“Burhan? Kata ayahku, kakek buyut selalu bercerita tentang Burhan yang tiba-tiba datang lalu tiba-tiba juga pergi. Kakek buyutku adalah seorang pejuang yang berperang ketika negeri ini belum merdeka. Sayangnya, negeri ini telah hancur, pahlawan-pahlawan harus dilupakan, gelar kepahlawanan mereka dicabut. Keluarga pahlawan juga dibantai satu persatu, karena dianggap sebagai ancaman rezim yang saat ini berkuasa”

Senyuman Laila perlahan menghilang, dia tak sanggup menahan air mata yang menggenang di kantung matanya. Wajar saja, kehidupan Laila sungguh berat.

“Kalau boleh bertanya, apakah kakek buyutmu itu bernama Fajar?” tanya Burhan.

“Bukan, namanya adalah Afwu. Tapi kata ayah, kakek buyutku juga pernah bercerita soal Fajar temannya yang merana” Laila menjawab dengan santai.

“Merana? Memangnya apa yang terjadi dengannya?” Burhan bertanya lagi.

“Aku tidak tahu pastinya, yang kupahami hanya Fajar temannya dicap sebagai pemberontak karena dia tidak punya pilihan saat keluarganya disandera oleh musuh. Dia hanya punya dua pilihan, bergabung bersama musuh atau seluruh keluarganya yang disandera akan dihabisi” Jawab Laila dengan menghela nafas yang cukup panjang.

Burhan terkejut mendengar jawaban Laila, Pak Fajar yang menjadi penyemangat rekan-rekan lainnya harus dihadapkan dengan keadaan serumit itu. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

“Sekarang tahun berapa?”

Laila lantas kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan dari mulut Burhan.

“Aneh sekali, apakah dirimu habis terbentur tembok? Sampai-sampai lupa tahun.” Laila tidak menanggapinya dengan serius.

“Maafkan aku, kedengarannya memang aneh. Tapi aku juga bingung karena setiap aku bangun tidur akan dihadapkan dengan keadaan dan waktu yang berbeda” Burhan mencoba serius.

“Ohh jadi maksutmu dirimu ini berasal dari masa lalu atau masa depan? Hahaha, aku akan membelikanmu obat pusing selepas ini, semoga masih ada toko obat yang masih buka ditengah kekacauan ini” Laila masih belum percaya dengan apa yang Burhan katakan.

“Hmmmm, ternyata kau orang yang suka bercanda ya” Burhan akhirnya menyerah untuk bertanya.

“Hahaha, lagi pula tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan sekarang ini selain menikmati kehidupan yang penuh penderitaan. Jangan sampai lupa untuk bahagia meskipun 10 detik nanti kau sudah tidak lagi hidup di muka bumi ini”

“Negeri ini sudah pada ujung tanduknya, para penguasa sudah kelihangan nurani dan akal sehat mereka, bangsa digdaya dari luar sana menggrogoti kebebasan kita, sungguh beruntung orang-orang yang hidup 100 tahun yang lalu karena bisa menikmati kebebasan yang sebenarnya. Sayangnya, mereka tidak pernah memikirkan nasib generasi penerus mereka. Hahaha sudahlah, persetan dengan itu semua”

Laila mencoba menggambarkan keadaan negeri yang sudah terlalu kacau, Burhan hanya bisa diam dan tertegun mendengar ceritanya.

“Oh iya, kau tadi bertanya sekarang tahun berapa. Sekarang adalah tahun 2215, sebaiknya kau benar-benar berasal dari masa lalu, aku kasihan padamu jika harus merasakan kondisi seperti ini haha. Cepatlah pulang ke asalmu jika tidak punya urusan, dunia yang kau tempati sekarang ini tidak seindah yang kau bayangkan”

Burhan hanya diam tak bisa menjawab, dia bingung harus melakukan apa di dalam keadaan seperti ini.

“Aku berasal dari tahun 2138, lalu terdampar sejenak di tahun 2038, dan pada akhirnya aku terdampar juga di tahun 2215 ini” Burhan akhirnya berani berbicara.

“Hmmmm, kau pemuda yang aneh. Baiklah jika kau memaksaku untuk percaya, aku akan mempercayaimu. Setidaknya aku harus percaya kepada seseorang agar kematianku yang semakin dekat ini bisa tenang”

“Tunggulah sebentar, tehnya sudah habis. Aku akan membuatkanmu lagi, atau mungkin sedikit camilan agar perut kosong kita ini terisi”

Laila dengan tenang menatap kematiannya. Bukan tanpa alasan, tapi karena seluruh keluarga pahlawan harus dihabisi karena dianggap mengganggu ketengangan para penguasa, dia sudah siap akan hal itu.

“Baiklah, maafkan aku sampai membuatmu kerepotan seperti ini”

“Hahahaha sudahlah, asal kau tau aku juga lapar. Aku membuatnya tidak hanya untukmu saja.” Laila terus mengajak Burhan untuk tertawa.

“Kalau begitu, aku akan membantumu untuk merapikan rumah ini”

“Oke, aku terima tawaranmu. Sekarang kita impas, yups mari bekerja!”

Mereka berdua saling bekerja, Burhan merapikan rumah sementara Laila menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka berdua.

“Ahhh, sungguh senang bisa berbicara santai dengan orang lain sepertimu, sudah lama aku tidak berbicang dengan orang lain karena aku sudah tidak percaya dengan orang lain lagi. Tapi saat melihatmu pingsan di samping rumah ini, kupikir kau adalah orang yang lemah dan kelaparan jadi aku mengangkutmu. Sayangnya, perjumpaan kita tidak akan lama lagi”

Laila merasa bersyukur bisa merasakan menjadi manusia normal yang berinteraksi dengan sesamanya tanpa rasa takut.

Pada akhirnya, mereka telah menyelesaikan masing-masing tugasnya. Dua porsi makanan sudah tersedia di atas meja dan siap untuk disantap.

“Selamat makan, Burhan” Laila tersenyum pada Burhan.

“Ah, hooh. Terima kasih, selamat makan juga” Burhan terlihat gugup melihat wajah manis Laila.

Mereka berdua pun makan bersama-sama. Namun, hal yang tak disangka-sangka pun terjadi.

“Senang bisa bertemu denganmu, Han. Tapi waktu kita tidaklah banyak, sudah waktunya kita untuk berpisah” Laila masih tetap tersenyum walau matanya meneteskan air.

“Ha? Memangnya ada apa?” Burhan menjadi bingung dengan ucapan Laila.

“Maafkan aku, tapi aku memang harus melakukannya agar kau selamat. Aku memasukkan obat penenang didalam makananmu, itu tidak akan menyakitimu. Kesadaranmu juga akan tetap terjaga hingga 15 menit kedepan, hanya syaraf ototmu yang akan istirahat sejenak, dengan kata lain kau akan lumpuh sementara. Setelah kelumpuhanmu hilang, selanjutnya kau akan tertidur dan kembali ke duniamu” Laila perlahan-lahan kehilangan senyumnya dan malah tenggelam dalam kesedihan.

“Kenapa kau melaku..kan.. iii..tt..tu?” Burhan tergeletak lemas tapi masih tetap sadar dan bisa melihat.

“Maafkan aku, masuklah kedalam dinding ini” Laila menggendong Burhan dan memasukkannya di dalam dinding rahasia.

“5 Menit lagi, akan datang banyak manusia berseragam rapi membawa senjata. Mereka datang kesini untuk menghabisiku, sebenarnya aku sudah tertangkap saat mencari bahan makanan di luar. Tapi aku berhasil merayu mereka agar memberikanku sedikit waktu dengan jaminan beberapa dokumen yang bisa mereka gunakan untuk membuat negara baru”

“Setelah negara baru itu terbentuk, tidak akan ada peluang kita untuk hidup. Tidak lagi keluarga pahlawan yang akan dihabisi, tapi semua penduduk akan dihabisi dan wilayah negara ini akan digunakan sebagai lahan bisnis berbagai negara yang masuk dalam organisasi rahasia mereka. Aku akan memberikan mereka dokumen palsu, dan yang asli sudah kuhanguskan. Sebenarnya aku berniat memberikannya padamu, namun jika kau benar-benar dari masa lalu aku takut jika terjadi paradoks waktu antara masa depan dan masa lalu. Pada akhirnya, kuucapkan selamat tinggal”

Wajah Laila mendekati wajah Burhan, seperti seorang pasangan yang hendak bercumbu. Namun, ternyata Laila tidak sedang ingin melakukan ciuman perpisahan, melainkan berbisik kepada Burhan.

“Aku tidak pernah ada, aku hanya berperan menjadi seseorang yang menolongmu dan berakhir tragis. Kau tidak akan pernah tau siapa diriku kapan pun itu, yang akan kau ketahui hanyalah seseorang yang bernama Laila di tahun 2155. Anggap saja jika aku hanya hayalan dalam kutukan mimpi ini”

Laila memberikan senyuman ditengah kesedihan yang menimpanya, Burhan tidak bisa melakukan apapun selain melihat dengan matanya yang masih bisa bergerak bebas.

Suara sirine terdengar dari luar rumah, terlihat petugas berseragam lengkap dan membawa senapan masuk mendobrak pintu yang masih tertutup.

“Dimana dokumen itu?” Tanya seorang petugas.

“Ini” Laila menyerahkan sebuah map.

Petugas itu membuka map dan sebuah kejadian menarik terjadi.

“Dasar wanita bodoh, kau sebut resep kue ini dokumen rahasia? Baiklah jika itu maumu, waktunya membuat otakmu yang menjawab semuanya” Petugas itu mengeluarkan sebuah obat yang biasa digunakan agar peminumnya bisa masuk alam bawah sadar.

“Percumah saja, tubuhku tidak akan kuat menerima dosis obat seperti itu. Otakku sudah kuhancurkan dengan meminum banyak obat keras, jika menerima satu obat lagi, bahkan itu obat ringan. Aku akan langsung kehilangan fikiran sehatku” Laila sudah mempersiapkan semuanya.

“Jangan terlalu banyak bicara, aku tidak tertarik untuk mengobrol dengan sampah negara sepertimu” Petugas itu bermaksud merendahkan keluarganya.

Petugas itu memaksa agar Laila menelan obat tadi, dan obatnya pun bereaksi sekaligus busa keluar dari mulut Laila. Akhir yang mengenaskan untuknya, sementara Burhan pun mulai kehilangan kesadaran karena efek obat penenang yang dipasang Laila pada makanannya.

.........

“Laila!! Dimana dirimu?” Burhan terbangun dan langsung berteriak mencari Laila.

“Hei, Nak. Ada apa dengan dirimu?” Ibu yang sedang menonton televisi dibuat kaget oleh Burhan yang tiba-tiba berteriak.

Burhan terdiam, kepalanya pusing memikirkan semua yang terjadi. Dia tak bisa melakukan apapun, keajaiban yang diberikan tuhan pun sia-sia.

“Buk, apa yang harus dilakukan pemuda sepertiku sekarang?” Burhan bertanya pada ibunya.

“Sepertinya, kau telah memahami semua yang terjadi, Nak. Padahal aku dan bapakmu masih ingin terus bersamamu” Ibu menjawab dengan nada yang lirih dan raut muka lesu.

“Aku dan bapakmu hanya bisa membuat janji denganmu agar dirimu itu terus hidup, dan bawalah semangat orang tuamu, semangat pendahulumu, semangat para pejuang, semangat para pendiri negeri ini. kita tidak tahu kapan kedamaian ini berakhir, tapi di tangan kecilmu itulah masa depan negeri ini kau bawa bersama pemuda lain. Kakekmu, telah merelakan harga dirinya demi keluarganya. Padahal dia adalah pejuang yang sangat gigih, dia rela menipu semua orang termasuk dirinya sendiri demi keluarga dan para penerusnya. Semua orang melupakannya, aku tidak ingin semangatnya mati. Sepertinya semangat itu ada dalam dirimu, Nak.” Ibunya memberikan semangat serta senyuman yang indah. Sayang, itu adalah yang terakhir kalinya.

“Aku dan bapakmu telah menyelesaikan tugas untuk membesarkan anak yang akan menjadi seorang pemimpin sepertimu. Sudah waktunya kami melihat perjuanganmu dari surga, Burhan anakku”

“Ini adalah kutukan keluarga kita sejak 10 abad lamanya, ketika dewa mengutus nenek moyang kita menjadi seorang pemimpin. Tumbalnya adalah keluarganya sendiri, namun kakekmu yang bernama Fajar malah mengingkari kutukan itu” Ibu dan Bapaknya perlahan-lahan menghilang.

“Selamat tinggal anakku, maukah kau berjanji untuk kami?” Mereka berdua akhirnya hilang bercampur dengan angin dengan membawa senyum di wajah mereka.

Burhan hanya bisa menangis menerima kenyataan pahit ini, dia terus menangis tanpa henti. Terlihat secarik kertas di atas tv, Burhan mencoba meraih dan membacanya.

Burhan, anakku. Aku dan bapakmu sebenarnya telah mengerti dengan semua yang terjadi. Karena ini adalah siklus kutukan para dewa yang datang pada keluarga kita. Satu minggu saat kau terbaring diatas kasur adalah waktu dimana dirimu menjelajah masa lalu dan masa depan. Tidak ada waktu bagimu untuk menangis, mengeluh, atau pun menyesal. Ini adalah takdir yang digariskan tuhan kepada keluarga kita. Semoga kutukan itu berhenti pada dirimu, agar penerusmu tidak lagi merasakan rasa sakit yang kau dan keluargamu alami. Selamat berjuang, anakku.”

Ayah dan Ibumu

Burhan tersenyum dan berkata “Terima kasih semuanya, kalian telah memberiku beban yang maha berat seperti ini. Bukanlah tuhan atau pun dewa yang memberikan kutukan, bahkan kurasa kutukan yang sebenarnya adalah waktu itu sendiri. Sesuatu yang terus berjalan tanpa memperdulikan apapun, dan akhirnya mereka memilih untuk berhenti dari kejaran waktu lalu melimpahkan semuanya padaku. Hahaha baiklah jika itu mau kalian, perjalananku baru akan dimulai dari sekarang. AKU AKAN MERUBAH DUNIA YANG KEJAM INI, LIHATLAH SAJA”.