Ulasan ini saya tujukan kepada sahabat Ahzhar, jujur saya tidak berani berkata banyak tentang karya puisinya. Pengetahuan saya mengenai kesusastraan sangatlah buruk, namun mungkin tak ada salahnya juga untuk berkomentar. Untuk itu saya beri judul Tilik Puisi, dengan maksud mengunjungi karya seseorang lalu sedikit bergumam. Dengan segenap kerendahan hati semua yang tertulis bersifat subjektif dan tidak bisa dijadikan sebagai landasan atau dibenarkan dalam hal apapun.

.../

Ora mudeng yo bener, mudeng yo durung karuan pinter

Jabatane kang misuwur, tapi kelakuane kok yo ancur

Jeneng ae uapik, moral e saitik

Ketok e cerdas, tapi senengane nindas

Senajan bejo tibakne wes lali karo rupo

Lah dalan ndunyoku..

Becik ketitik, olo ketoro

Nduweni ilmu setitik gur mung gae ngapusi sak negoro

Sabaro cung, tetepo sinau

Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur

…/

            Sepenggal bait yang saya kutip sekilas terlihat sekali bahwa si penulis memiliki gaya bahasa Jawa Ketimuran. Pertama, dalam pemakaian kata yang hiper/berlebih orang jawa ketimuran sering sekali menambahkan huruf “U” di depanya. Contohnya dalam menggambarkan kebaikan yang berlebih, mereka akan mengatakan “Uapik”, atau melihat wanita cantic yang berlebih mereka akan mengatakan “Uayu” dst. Kedua, panggilan kata “cung” dalam dua bait terakhir memperlihatkan bahwa memang ini kalimat khas yang dipakai orang jawa untuk memanggil anak laki-lakinya.

            Selain menggunakan bahasa Jawa yang agak Ketimuran, penulis juga memberikan istilah Arab di akhir kalimatnya. “Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur” sebenarnya adalah istilah yang diambil dari Q.S Saba’ ayat 15. Istilah ini banyak menuai komentar dari kalangan para tafsir. Namun dalam hal penggunaan pada kalimat tersebut mungkin melanjutkan pernyataan sebelumnya tentang sedikitnya ilmu yang hanya dipakai untuk membohongi negara (tafsiran bebas dari “Nduweni ilmu setitik gur mung gae ngapusi sak negoro”). Sehingga si penulis memaknai Indahnya Indonesia, dengan Kemurahan Ampunan oleh Tuhannya. Tibalah pada sebuah kesimpulan “Tetaplah Belajar” (tafsir bebas dari “… tetepo sinau”).

            Selebihnya bait diatas dapat dinikmati sesuai selera masing-masing, bagi orang yang paham jawa mungkin mudah untuk dipahami, namun bagi kalangan lain tentu kalian harus membawa pepak agar mudah dipahami. Kebenaran tidak hanya melulu Intelektualitas, namun Kebijakan adalah indikator yang essensial di dalamnya. Kebaikan selalu menemukan tempatnya, begitu juga dengan Keburukan. Tetaplah belajar, karena Tuhan lagi maha Pengampun dan Pemberi Rahmat. Semoga Indonesia menjadi negara yang makmur, adil, dan beradab.

…/

Setelah hancurnya ingatan dalam renung kesengsaraan

Sejenak, aku berpikir

Aneh…

Entah Mengapa..

Aku merintih

Mataku buram, penglihatanku suram

Khayalan akan masa depan

Pendidikan hancur lebur dimakan ketamakan

Mulut dibungkam, pikiran ditikam

Gimana mau berpendapat

Dikit-dikit udah dihujat

…/

            Tidak banyak yang bisa saya gumamkan dalam bait-bait tersebut. Mungkin beberapa saja tentang interpretasi yang saya dapat dalam membacanya. Kegelisahan penulis dalam berimajinasi pendidikan di masa depan dihasilkan dari cerminan pendidikan masa sekarang. Argumen sebagai mata uang pikiran tidak lagi dibebaskan, mulut dibungkam adalah sebuah majas yang mesinyalir bahwa kebebasan dalam hal berbicara dan bermedia sosial sudah diatur oleh pasal karet (baca: UU ITE). Pembubaran HTI juga mengisyaratkan bahwa munculnya pikiran yang tidak sejalan juga harus bersiap-siap untuk dibubarkan. Ada juga majas yang mungkin sama dalam maksud tapi dipakai secara bersamaan, yaitu mata dan penglihatan. Selainnya tidak saya temukan jenis-jenis majas baru untuk digunakan.

…/

Katanya negara demokrasi

Kok belajar saja dibatasi

Pembangunan direkontruksi

Sarana dan prasana pendidikan di mutilasi

 

Katanya bumi pertiwi

Tapi demam mengatasi hak asasi

Sekolah itu multi fungsi

Bukan ajang mencari gengsi

 

Katanya membangun pendidikan berkarakter

Eh kok malah keminter

Bukan saja tak pandai

Tapi hanya berandai-andai

…/

            Bagi saya ini adalah isi puisi sekaligus penutup, kritik-kritik mulai diperlihatkan secara tegas dan lugas. Mulai dari rekontruksi pembangunan, sampai hilangnya fungsi sekolah. Ketika menilik bait “Kok belajar saja dibatasi” saya langsung teringat beberapa sistem sekolah yang masih kontroversial. SIstem tersebut kita kenal sebagai “ZONASI”. Pun dalam membaca “Bukan ajang mencari gengsi” saya langung teringat dengan sistem sekolah bernama “AKREDITASI”. Duh memang benar sekali si penulis resah di bait sebelumnya. Sayangnya saya tidak menangkap koherensi atas bumi pertiwi dan hak asasi. Mungkin sedikitnya pengetahuan saya atas hal tersebut juga bisa saja terjadi.

            Catatan penting bagi pendidikan bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki. Cara pandang manusia terhadap sekolah sudah jauh dari syarat akan makna sekolah sendiri. Sebelumnya saya pernah menulis tentang kritik atas lembaga sekolah yang kian bersifat komoditas. Ditambah lagi terlepasnya tangan orang tua dalam mengemban peran pendidikan sudah menjauhkan kita dari arti belajar. Napas pendidikan semoga tetap panjang. Vivat Academia!