Nama aslinya adalah Sutan Ibrahim. Julukan Tan Malaka merupakan
gelar semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis keturunan ibu. Pria kelahiran
2 Juni 1879 di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat ini lahir dari rahim
Rangkayo Sinah. Beliau adalah putri orang yang disegani di desanya. Sedangkan
ayahnya, HM. Rasad bekerja sebagai karyawan pertanian.
Tahun 1907 ia bersekolah di Kweekschool (sekolah guru). Namun, nama
Tan terdengar sayup di sekolah yang kini bernama SMA 2 Bukittinggi. Bahkan,
sebagian guru tak yakin jika Tan pernah mengenyam pendidikan di situ. Sampai
Hery Pooze-seorang sejarawan yang meneliti Tan 48 tahun lalu-datang dan
menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, di balik lemari
sekolah.
Oktober 1913, Tan berangkat ke Harleem, Belanda melalui teluk
bayur. Teman-teman dekatnya di Belanda memanggilnya Ieb atau Ipie. Sepulang
dari Harleem is menjadi guru sekolah rendah di Deli, Sumatera Utara. Ia
hengkang ke Semarang dan bergabung dengan Sarekat Islam pada tahun 1922. Saat
itu Tan sangat aktif menyatukan gerakan komunis dengan Islam untuk melawan
imperialisme Belanda. Hal itu yang menyebabkannya dibuang ke Amsterdam pada 1
Mei 1922.
Ketika di Belanda ia mencalonkan diri anggota parlemen nomor 3 di
Partai Komunis Belanda. Pindah ke Jerman melamar menjadi legiun asing, tapi
ditolak. Lalu di Berlin, bertemu Darsono, pentolan Partai Komunis Indonesia.
Petualangannya berlanjut di Rusia saat
November 1922. Ia mewakili Partai Komunis Indonesia dalam konferensi Komunis
Internasional (Komintern) keempat di Moskow. Diangkat sebagai Wakil Komintern
untuk Asia Timur di Kanton.
Ketika tinggal di Kanton Tab menerbitkan majalah The Dawn dan
menulis buku Naar de Republiek Indonesia pada 1925. Tak berhenti di situ, ia pergi
ke Filipina pada Juni 1925. Ia menyelundup ke Manila untuk menyembuhkan sakit
paru-parunya. Memakai nama Elias Fuentes, bekerja sebagai koresponden El
Debate. Berlanjut di Singapura awal 1926 masuk memakai nama Hasan Gozali, orang Mindanao. Juga menulis buku Massa
Actie. Hengkang lagi ke Thailand pada Juli 1927 mendirikan Partai Republik
Indonesia di Bangkok.
Bapak Republik Indonesia
Tan adalah tokoh pertama yang menulis konsep tertulis gagasan
Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek
Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu
dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka)
sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno,
yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).
Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari
tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia.
Tokoh pemuda radikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan
Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu
Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan
Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan
buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung
Karno dalam pleidoinya, Indonesia Menggugat.
W.R. Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan
kalimat "Indonesia tanah tumpah darahku" ke dalam lagu Indonesia Raya
setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk "Khayal
Seorang Revolusioner". Di situ Tan antara lain menulis,
"Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri.... Kewajiban seorang
yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya."
Tan, terpesona dengan Marxisme-Leninisme
Semenjak masa mudanya di
Belanda, Tan sudah terpesona dengan Marxisme-Leninsme. Karena pemahaman dan
pendeklarasian yang kuat tentang hal itu. Ia menjadi penghuni penjara
berkali-kali. Bukan berarti penjara yang menyebabkan ia Marxis-Lenins, tapi
Marxis-Lenins lah yang membuat dia dipenjara.
Ketertarikannya terhadap Marxis-Lenins mendorong Tan untuk membuat
sebuah karya, dengan judul Madilog. Yang ditulis di Cililitan selama delapan
bulan dan rata-rata setiap harinya menghabiskan tiga jam. Madilog adalah
materialisme, dialektika, dan logika. Buah hasil penelaahan Tan terhadap
filsafat Marxisme-Leninisme. Tesis utama filsafat ini berbunyi: bukan ide yang
menentukan keadaan masyarakat dan kedudukan seseorang dalam masyarakat,
melainkan sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan ide.
Warisan Tan
Tan Malaka membentuk jaringan revolusioner yang hebat dalam
perjuangannya, tetapi bukan partai yang awet. Ia merantau 30 tahun, dari Pandan
Gadang (Suliki), Bukittinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri,
Surabaya, Amsterdam, Berlin, Moskow, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon,
Bangkok, Hong Kong, Singapura, Rangoon, sampai Penang.
Meskipun Tan sempat memimpin partai Komunis Hindia Belanda padq
1921. Tan Malaka justru menolak pemberotakan PKI pada 1926/1927.
Tan Malaka juga mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di
Bangkok pada 1 Juni 1927. Pari dianggap berbahaya oleh intel Belanda, dan para
aktivisnya diburu. Karena Tan membuat jaringan dengan Pan-Islamisme yang
dianggap oleh Komitern sebuah bentuk Imperialisme. Padahal gerakan ini
menentang Imperialisme, kata Tan.
7 November 1948-bertepatan dengan hari revolusi Rusia-Tan
mendirikan partai Murba (Musyawarah Masyarakat Banyak). Oleh karena itu Murba dicitrakan
sebagai bentuk Komunis baru. Namun tiga bulan setelahnya ia ditembak mati di
Kediri.
Itulah beberapa kiprah Tan dalam membuat gerakan revolusi dan gerilya.
Jaringannya sangat luas , tapi tak tampak. Gagasan-gagasan Tan membuat Soekarno
kagum. Soekarno memanifestasikan kekagumannya pada Tan Malaka dalam sebuah
Testamen Politik yang isinya kemudian diperlemah oleh Hatta. Tetapi
Tan tetap bergerak di bawah tanah dan ragu untuk tampil secara terbuka. Mungkin
ini disebabkan pengalaman pribadinya yang lebih dari dua puluh tahun
dikejar-kejar dan (hidup) dalam ilegalitas.
*Disarikan dari buku “Tan Malaka: Bapak Republik yang
Dilupakan”.

0 Comments