Indonesia,
negara yang sudah berdiri sejak 17 Agustus 1945. Bisa dibilang menjadi negara
surgawi karena keragaman suku budaya hingga flora faunanya. Dihuni oleh ratusan
juta manusia yang bersatu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Negeri yang penuh cerita
suka maupun duka sedari dulu kala, merdeka atas nama bangsanya sendiri. Ribuan
suku bersatu padu demi terciptanya kemerdekaan yang abadi.
Waktu
terus berjalan dan Indonesia pun terus bertambah usia. Keragaman dan perbedaan
perlahan menjadi perdebatan, mulai dari suku, ras, agama hingga warna kulit
menjadi sebuah masalah. Padahal jika berkaca pada masa lalu, semua itu adalah
kekuatan untuk membangun negara merdeka yang bisa dinikmati bersama.
Intoleransi memang tidak pernah diinginkan, tapi hal tersebut tumbuh dengan
perlahan hingga menjadi racun yang terus menyebar di tubuh Indonesia.
Secara
tidak langsung kemerdekaan itu sendiri yang disalah artikan oleh beberapa
kalangan, sehingga sampai terjadinya sebuah tindakan intoleransi. Karena setiap
warga negara sudah pasti merasa mempunyai hak dan kebebasan dalam berpendapat
dan bertindak tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan setelahnya. Memang
kasus ini sangat rumit untuk terselesaikan, karena berhubungan langsung dengan
kebiasaan masyarakat sendiri. Bagaimana pun juga, masalah ini tidak akan
terselesaikan jika hanya bergantung satu sama lain.
Seandainya
kita semua bisa beranggapan bahwa Indonesia ini belum merdeka, meskipun pada
kenyataannya memang telah merdeka. Dalam artian, masyarakat Indonesia tetap
berjuang demi mewujudkan negara yang damai, sentosa, nyaman dan membanggakan.
Paling tidak, kita semua masih mempunyai semangat untuk membuat negeri ini baik
dan terus membaik. Dengan begitu perilaku intoleransi perlahan-lahan akan
lenyap dan tidak tersisa lagi.
Begitu
banyak tindakan intoleransi yang terjadi di Indonesia, kasus intoleransi yang
paling banyak terjadi adalah masalah yang berhubungan dengan agama. Kita dapat
membuktikannya dengan melihat berbagai kejadian sedikit kebelakang,
sepertihalnya bom bali, pengeboman gereja di beberapa daerah, dan masih banyak
lagi. Sebenarnya masih banyak lagi kejadian intoleransi yang lain, terlalu
banyak hingga mungkin tidak akan pernah
habis jika dibahas satu persatu. Memang sangat disayangkan, tapi kita juga
tidak boleh terlalu berlarut-larut tanpa membuat sebuah tindakan sehingga
kejadian tersebut takkan terulang kembali.
Peringatan
17 Agustus sepertinya menjadi hari yang begitu sakral nan suci bagi seluruh
masyarakat. Karena pada hari itu semua kalangan, dari ras mana pun, suku mana
pun, agama apapun akan merayakan kelahiran negeri mereka tanpa memperdulikan
perbedaan sedikit pun. Sebenarnya itu adalah kegiatan yang harus dilakukan
terus-menerus tanpa harus menunggu 17 Agustus tiba. Secara perayaan memang
berbeda, tapi secara semangat tampaknya harus tetap terjaga hingga ajal tiba.
Pada
akhirnya, semua harus sadar bahwa negara ini sudah merdeka dan harus tetap
merdeka selamanya. Negara yang baik juga tidak bisa terwujud secara instan
begitu saja, begitu juga masyarakat yang baik juga tidak bisa sewenang-wenang
memaksakan kehendak negara untuk melakukan semua yang diminta. Masyarakat juga
harus menjadi kumpulan manusia yang berkualitas agar negara yang dihuninya
menjadi berkualitas pula.
Sekarang,
tidak ada waktu untuk menggantungkan satu sama lain. Kita semua harus bersatu
untuk melanjutkan mimpi para pendahulu kita untuk menjaga kemerdekaan yang
telah mereka rengkuh dengan mengorbankan harta hingga nyawa. Indonesia lahir
dan berdiri dengan keberagaman, semuanya berpartisipasi dalam merebut
kemerdekaan, tidak hanya Islam ataupun Kristen saja, tapi semuanya ada untuk
Indonesia.

0 Comments