Film ini mengisahkan tentang sisi gelap Indonesia dengan latar
belakang kondisi sosial rakyat kecil. Reza rahadian yang berperan sebagai tokoh
utama (Muluk) merupakan seorang sarjana muda yang menyandang gelar S1 Manajemen
mengajak kedua temannya Samsul dan Pipit untuk mendidik anak-anak pencopet agar
mengerti tentang apa itu ilmu agama dan umum, sekaligus untuk membenahi akhlak
dan moral mereka, agar menjadi generasi muda yang berpendidikan. Bang Muluk
sebagai tokoh utama berperan sebagai pengatur keuangan, dengan membuat
perjanjian 10 persen hasil dari mencopet diberikan padanya untuk ditabung dan
dikelola.
Lalu apa hubungan film ini dengan kemerdekaan Bangsa Indonesia? Telah
kita ketahui pada pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 tertulis tujuan Bangsa
Indonesia yaitu : “melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia”.Film ini mengkritik sistem
pemerintahan indonesia yang sering tidak berpihak pada rakyat kecil. Hal
tersebut dapat dilihat pada bagian akhir film yang mengutip salah satu pasal
UUD 1945 “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”
pasal 34 ayat (01) UUD 1945. Meskipun peraturan tersebut telah ditulis dalam
UUD namun para pemerintah seringkali menangkap para rakyat kecil yang berusaha
mendapat penghasilan halal melalui bekerja sebagai pengasong, para
satpol pp menangkap mereka dengan alasan mengganggu kelancaran lalu lintas.
Sekilas kita dapat memahami Indonesia melalui
film “Alangkah Lucunya Negri Ini” dan memahami kondisi rakyat kecil. Bahwa
sebenernya semangat untuk sekolah dan belajar masih dimiliki oleh mereka.
Kemerdekaan Indonesia sesungguhnya bukan hanya milik pemerintah dan pengusaha,
namun milik bersama dan harus dirasakan oleh semua golongan. Hal itu juga
disinggung dalam film ini, perbincangan mengenai para wakil rakyat yang bukan
hanya mencopet namun mereka melakukan tindak korupsi yang lebih merugikan
negara. Seperti yang dikatakan oleh samsul “yang paling besar dosanya adalah
mereka yang korupsi, mereka yang menghabiskan uang rakyat, yang membiarkan
rakyatnya melarat, yang membiarkan rakyatnya menjadi tukang copet.”
Melalui film ini kita mengetahui bahwa
dirgahayu Indonesia ke 75 bukan hanya sekedar angka sebagai penanda umur, namun
sebagai simbol seberapa tangguhnya Indonesia mempertahankan namanya di dunia
dan di hati rakyatnya. Indonesia merupakan negara yang kuat dan disegani oleh
dunia, namun jangan sampai kekuatan tersebut justru menjadi senjata yang
menghancurkan Indonesia dari dalam. Mari bersama kita jaga Indonesia dan saling
menghargai perbedaan, karena perbedaan itulah yang menjadikan Indonesia dapat
berjaya dan bertahan hingga saat ini.
SALAM DIRGAHAYU, SALAM INDONESIAKU

0 Comments