Sepulang kerja sore menjelang petang hari itu, Rian dengan napas tersedu-sedu berlari menuju pintu rumah, menggedor-gedor pintu dengan keras sembari memanggil istrinya yang tengah menyusui anak pertamanya di ruang tamu, “Ada apa si pak? Kok gupuh amat?” sontak membuat takut istrinya. “Buk,hari ini kita makan apa?, Bapak belum dapat duit, mana utang masih banyak lagi”. Sang istri termangun seraya mengerutkan dahinya, melihat suami tercintanya pulang memberi kabar yang kurang mengenakkan. “Yaudah pak, duduk dulu, itu sudah aku buatin kopi, silakan diminum”. Kemudian sang istri masuk ke kamar untuk menidurkan si kecil. Bercampur suasana yang awut-awutan, Rian pun meneguk kopi buatan istrinya sambil gemeteran nan keringat bercucuran deras.
Panik sungguh teramat panik, melihat sang suami yang begitu gelisah, membuat sang istri menjadi ikut bersedih mengingat kondisi ekonomi keluarga yang kurang berkecukupan. Dengan lembut hati sang istri membelai ramah kepala suami tercintanya sambil berucap “Sudahlah pak, memang belum rezekinya, tadi siang dikasih bungkusan makanan oleh bu Ririn, buat makan nanti malam dan sarapan besok pagi”. Mendengar suara yang sangat lembut dari istri tercintanya, membuat suasana hati Rian menjadi lebih tenang. sembari menatap segelas kopi buatan istrinya, Rian pun berkata “Andai aku jadi pejabat, pasti tidak akan hidup kesusahan”. Dengan nada yang cukup pelan, istrinya membalas “Belum tentu, meskipun jadi seorang pejabat, tapi kalau duitnya aja hasil korupsi, kan sama saja”. Tuturmya.
Perlahan, Rian pun mulai meneteskan air mata, merenungi nasib yang dialami oleh keluarga, serta menatap raut wajah istri tercintanya, Rian bertanya “Maafkan aku sayang, aku belum bisa membahagiakan keluarga kita, jangankan harta, duit aja kita pas-pasan”. Isak tangis Rian pun semakin keras, sambil menggenggam erat tangan istri tercintanya, disertai dengan mata yang berkaca-kaca, sang istri menatap wajah suami tercintanya. “Sudahlah pak, kita harus mensyukuri nikmat yang ada, memang sulit untuk hidup tanpa memiliki harta yang berlimpah, tapi bapak harus ingat, bahwa uang bukanlah segalanya”. Ucapan tersebut membuat hati Rian menjadi semakin tenang, keluh kesah pun perlahan menghilang. Rian pun mengangkat kepalanya lalu mengecup dahi istri tercintanya. Sambil tersenyum ia berkata “Benar sayang, aku terlalu terlena kepada uang, sejatinya kamu dan anak kitalah hartaku yang paling berharga”. Adzan maghrib mulai berkumandang, langsung saja sang istri berkata “Kamu mandi dulu pak, abis itu kita sholat berjamaah, terus makan malam” ujarnya, Rian pun mengangguk seraya tersenyum dan bersyukur memiliki harta yang sebenarnya, yaitu istri tercintanya.

0 Comments