RSUD Dr.
Soekandar yang terletak di Jl. Hayam Wuruk
No.25, Rw. II, Mojosari, Kec. Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur 61382, Indonesia sekarang
menjadi tempat rujukan rumah sakit untuk penanganan pasien COVID-19 diwilayah
tersebut. Sudah dari dulu tempat ini dijadikan rujukan pasien diberbagai
wilayah kecamatan Mojokerto, diantara lainnya seperti kecamatan mojosari,
ngoro, pungging, dlanggu, jatirejo, bangsal dan lain-lainnya. Namun perlu
diketahui bahwasannya dibalik dari nama rumah sakit tersebut ada sepenggal
sejarah yang bisa dijadikan motivasi setiap individu khususnya dikalangan
pelajar atau anak muda. Yaitu Profesor Dokter Soekandar yang pernah menjabat
sebagai bupati pertama di Mojokerto paska kemerdekaan, dan sekaligus pernah
menjadi ketua organisasi muda dimasanya itu.
Sebelumnya
sangat sulit untuk mencari sumber atau bukti yang memaparkan sosok dari dokter
ini. Banyak sejarawan Mojokerto sedikit menemukan sejarah singkatnya, salah
satunya yaitu Ayuhanafiq yang pernah diliput di radar Mojokerto. Namun dibalik
itu ceritanya professor tersebut pernah menjadi Bupati Mojokerto diperiode
1954-1947 dan tertulis didalam buku “Orang Indonesia yang terkemuka di Jawa”
karangan penjajah jepang. Biografi singkatnya Soekandar lahir pada 20 juni 1900
di Gudo, Kabupaten Jombang. Sejarawan Ayuhanafiq menjelaskan pendidikan seorang
dokter itu cukup bagus, di masa kecil beliau mengenyam ditingkat sekolah dasar,
kemudian melanjutkan di Europeesche Lagere School (ELS), setelah itu berlanjut
di Algemeene Middelbare School (AMS) atau sekolah menengah umum zaman Hindia
Belanda, keduanya ditempuh di Kabupaten Malang.
Setelah lulus, Soekandar kembali
melanjutkan pendidikan di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) atau
Sekolah Dokter Jawa di Surabaya. Lembaga pendidikan di Kota Pahlawan itu
kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Airlangga (Unair). Ayuhanafiq,
menjelaskan, pada tahun 1928, Soekandar lulus pendidikan dari NIAS dan resmi
menyandang gelar Inlandsch Art atau dokter Jawa atau pribumi. Bahkan, pria
berkacamata itu langsung diangkat sebagai dokter kabupaten di Mojokerto,
jabatan seperti kepala dinas kesehatan kabupaten. Namun jabatan tersebut
diduduki sampai penjajah Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942, tetapi pada
zaman Jepang itu, dr. Soekandar ditunjuk sebagai dokter Gubernur yang
diperbantukan di Kabupaten Mojokerto.
Nah, perjalanan pendidikan paling
bisa dijadikan pelajaran adalah ketika Soekandar menempuh pendidikan
kedokteran, dan memulai mendalami pemikiran kebangsaan. Oleh karena itu, jiwa
nasionalismenya mengantarkannya masuk ke organisasi Partai Indonesia Rayan atau
(Parindra) yang didirikan oleh Dr. Soetomo. Saat itulah Soekandar menjadi Ketua
Parindra Mojokerto ketika dia mulai bekerja di Mojokerto. Seiring pergaulannya
dengan para aktivis di Surabaya, dr. Soekandar juga dipercaya sebagai Ketua
Pemuda Rakyat Indonesia (PRI). Menurut sejarawan, diawal masa kemerdekaan, PRI
menjadi organisasi yang dominan di Surabaya. Bahkan memiliki cabang di berbagai
daerah, termasuk di Mojokerto. Saat masih menduduki posisi sebagai ambtenaar
atau pegawai negeri berjabatan kepala dinas kesehatan, dr. Soekandar memiliki
kesempatan bertemu banyak pihak. Hal itu membuat karirnya terus menanjak. Ketika
itu, dia juga ditunjuk sebagai Ketua Palang Merah Mojokerto, karir menantu
Bupati Mojokerto Ke-9 RAA Rekso Amiprodjo ini kian berkibar. Sebab, dr.
Soekandar juga sempat terpilih sebagai anggota Dewan Kota Mojokerto. Dokter
muda itu dipercaya mewakili unsur pribumi sebagai legislator setelah R.P.
Soeroso.
Puncaknya terjadi ditahun 1945,
tepatnya paska Proklamasi Kemerdekaan RI, secara aklamasi dr. Soekandar
ditunjuk menjadi Bupati Mojokerto. Terpilihnya dr. Soekandar karena saat itu
terjadi kekosongan posisi bupati dikarenakan bupati sebelumnya, Rekso Amiprodjo
sempat diculik oleh sekelompok pemuda dan dibawa ke Pesantren Tebuireng Jombang
dan kemudian ke Malang. Namun, upaya pencarian yang dilakukan Jepang tidak
berhasil. Sehingga atas terpilihnya jabatan tersebut, dr. Soekandar
menjadi Bupati Mojokerto ke-10 sekaligus yang pertama setelah masa kemerdekaan
RI.
Dr. Seokandar termasuk salah satu
sebagai awal perjuangan di Mojokerto seharusnya kisahnya bisa membantu dan
menginspirasi dilingkungan pelajar atau anak muda hingga kalangan bidang
kesehatan saat ini. Masih banyak sekali sejarawan yang kian saat ini dalam
proses penyelidikan ceirta dimasa lalu guna menyelaraskan asal-usul yang ada. Mungkin
saat itu memang urusan diplomatik kenegaraan sangat diperlukan guna
memerdekakan bangsa ini, sehingga banyak sekali ilmuwan yang membantingkan
tujuan sekolahnya ke urusan politik. Memang tidak sejalan, dan bukan tujuan
awal dalam prosesnya. Namun bukan itu tolak ukur yang bisa diambil dari kisah
para tokoh kita terdahulu.
Selagi masih ada waktu dalam
proses mencari ilmu, wawasan, hingga lingkungan, keberagaman bidang masih
terbuka lebar untuk diterjuni. Tidak hanya diplomatik, politik, atau yang
berhubungan sosial saja, keagamaan juga sangat diperlukan untuk menjamin
keyakinannya dan kebangsaan demi harkat martabat Negara ini. Tidak lucu
seandainya anak muda namun belum mengerti segala aspek yang seharusnya
diketahui. Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat agar dikalangan kita semua
tidak lupa akan segi sejarah para pendahulu kita agar tidak terlena juga dengan
perkembangan zaman yang membuat kita terpaksa berubah.
(mj/ram/ris/JPR). 2019. Dokter Jawa, Ketua Organisasi
Pemuda. https://radarmojokerto.jawapos.com/read/2019/02/14/119409/dokter-jawa-ketua-organisasi-pemuda (diakses tanggal 15 Januari 2020)

0 Comments