Ada yang berbeda degan perayaan kemerdekaan tahun ini, berbeda dengan tahun sebelum nya, tahun ini perayaan kemerdekaan dilaksanakan dengan rasa waspada. Hal ini terjadi lantaran pandemi Covid-19 yang masih mengancam masyarakat Indonesia. Masyarakat dihadapkan pada suatu kondisi dilematis, disatu sisi kita gegap gempita menyambut perayaan kemerdekaan yang ke-75, namun pada kondisi lain masyarakat harus berhati-hati agar tetap aman. Melalui Kementerian Sekretariat Negara (16/1), pemerintah memberikan pedoman prosedural terkait momen peringatan kemerdekaan, pedoman tersebut sangat penting dalam kondisi seperti saat ini.

Pada momentum perayaan kemerdekaan yang ke-75 Indonesia mengangkat tema besar yakni “Indonesia maju”. Tema yang cukup menarik untuk dibahas lebih lanjut, karena selama 75 tahun kebelakang masih banyak masalah yang menghambat Indonesia untuk “maju”. Melihat pada kondisi di lapangan, dari bidang yang paling fundamental saja seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kesejahteraan masih cukup jauh dari kata maju. Menurut mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Prof. Bambang (10/8/19) berpendapat bahwa hal yang mengancam terhambatnya Indonesia maju adalah pengembangan SDM yang tidak diperhatikan dengan baik.

Untuk menuju pada visi Indonesia maju tentu pemerintah dan aparat terkait, perlu menyiapkan berbagai regulasi yang tepat. Namun yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah masalah prioritas kebijakan. Lihat saja contoh dari masalah yang sedang terjadi, yakni pandemi corona. Kita bisa mengamati beberapa miskebijakan saat penanganan wabah dunia ini. Dari dampak corona, sektor lain pun turut terdampak, salah satunya di sektor perekonomian. Pada posisi ini pemerintah mengambil kebijakan “New Normal” . kebijakan ini secara resmi ditetapkan melalui SE MenKes No. HK.02.01/Menkes/335/2020 Tentang Sektor Jasa dan Perdagangan (Area Publik) dalam Mendukung Berlangsngnya Usaha. Disahkanya kebijakan ini guna menyelesaikan dua masalah tersebut. Namun hasilnya, kita bisa menyaksikan sendiri data korban semakin hari semakin bertambah.

Pertanggal 10 Agustus 2020 angka korban Covid-19 mencapai 127 000 (dikonfirmasi), 82 236 (sembuh) dan 5 765 (meninggal). Memasuki bulan Agustus ini tidak hanya negara Indonesia yang merayakan kemerdekaan, Covid-19 pun turut merdeka dengan semakin banyak nya korban. Di sisi lain akibat dari miskebijakan ini, Indonesia menghadapi ancaman ekonomi yang semakin berbahaya, yaitu resesi.

Semakin tingginya angka penderita corona, selaras pula dengan semakin banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami oleh para buruh. Kebijakan kartu pra-kerja yang ditawarkan oleh pemerintah belum cukup efektif untuk menangani PHK ini. Jika pemerintah tak segera serius dalam menangani masalah pandemi ini, maka bukan hanya ekonomi, sektor lain pun pasti akan menghadapi masalah yang lebih besar kedepanya. Sampai saat ini pemerintah tak kunjung memberikan jurus yang benar-benar jitu untuk menyelesaikan masalah besar ini.

Semakin hari penanganan pandemi ini malah terkesan tidak serius. Pembahasan terkait Covid-19 dirasa semakin melebar dan tidak substansial, yang paling baru pemerintah terlihat sibuk mengurusi argumen teori konspirasi ala Jrx dan Anji yang menganggap menemukan obat mujarab penangkal korona. Masyarakat saat ini tentu sangat membutuhkan perubahan yang substansial – fundamental. Pada tingkat masyarakat terendah, semakin banyak kelompok masyarakat rentan. Jika sebelumnya lansia dan pengidap penyakit bawaan dianggap rentan, maka sekarang tidak hanya itu, petani, pegawai, ASN, guru honorer, kaum perempuan, dan banyak kelompok lain semakin menderita dan rentan baik masalah kesehatan maupun kesejahteraan. Masalah yang terjadi semakin sistematis di berbagai bidang, secara otomatis pula pekerjaan rumah pemerintah bertambah dan rumit.

Dengan adanya wabah Covid-19 pada momentum perayaan kemerdekaan ini, lantas apa arti kemerdekaan yang sesungguhnya ?

Pemerintah yang tak kunjung memberi kesejahteraan, serta masalah yang tak kunjung selesai, sungguh jauh dari kata merdeka. Kemerdekaan masyarakat pun banyak direnggut oleh wabah ini, dengan dibatasinya aktifitas keseharian. Namun dengan adanya wabah ini, ada semangat kemerdekaan yang tumbuh dari setiap individu masyarakat. Pada keadaan yang krisis seperti sekarang, masyarakat semakin bersatu dan gotong royong untuk tetap bertahan. Suatu momen yang langka terjadi ketika kita berada pada kondisi normal.

Memasuki ulang tahun Indonesia yang ke-75 masyarakat patut menyambut bahagia, namun di sisilain corona turut “berbahagia” dengan semakin kuat dan semakin akrab dengan masyarakat. Semoga tema “Indonesia Maju” benar-benar diupayakan, sehingga tidak hanya menjadi mimpi namun terealisasi. Dirgahayu Indonesia yang kre 75 tahun, serta selamat “merdeka” untuk yang mulia Covid-19.