Di bulan merdeka tanggal merdeka
Kuintip dari dalam bilik
Ekonomi tak kunjung membaik
Presiden gusar, wartawan bersorak
Makan teramat sukar, apalagi berak
Sepenggal merdeka di tanggal merdeka
Bangunan sekolah melamun
Tak lagi ada kata berduyun-duyun
Guru merias diri, murid sibuk
melihat tv
Seragam ditanggalkan, haram diam
pendidikan ada ujian
Sepenggal merdeka di bulan merdeka
Kematian diberitakan,
Kurcaci asing telah datang
Dokter jadi pasien,
Pasien jadi narapidana publik
Hidup dilumat, nafas dicekik
Dongeng sepenggal merdeka
Memutar memori masa penjajahan
Seperti kata pepatah
Sejarah terus berulang,
Dengan tokoh baru, cerita lalu
Merdeka selalu sepenggal
Semoga tak terpenggal
Judul : Sepenggal Merdeka
Pengarang : Abdul Afwu
Godly Prayitno
Pada tanggal 17 Agustus, menjadi sebuah hari yang sakral yang mana
pada hari tersebut diperingati oleh seluruh rakyat negara Indonesia sebagai
hari lahirnya bangsa Indonesia atau dengan kata lain sebagai “Hari
Kemerdekaan”. Setelah sekian lama para pejuang mempertahankan Indonesia dari
tangan para penjajah, menjadikan kobaran api semangat demi membangun Indonesia
agar menjadi negeri yang lebih baik untuk kedepannya. Namun, selang demi masa
kemerdekaan itu sendiri menjadi sesuatu yang lumrah bagi khalayak umum,
terutama bagi rakyat Indonesia saat ini juga. Puisi “Sepenggal Merdeka”
merupakan sebuah puisi yang menceritakan alur kisah memperingati kemerdekaan
Indonesia yang masih dalam kondisi yang bisa dikatakan kurang normal, karena begitu
banyak problematika yang sedang dihadapi dewasa ini.
“Apakah saat ini kita benar-benar sudah merdeka?”. Begitu
kalimat yang mungkin pantas kita lontarkan pada puisi sepenggal merdeka. Sekilas,
apabila kita melihat dari faktanya ya tentu bahwa Indonesia sudah merdeka, ya
tho?. Tetapi realita yang terjadi saat ini sudah terlampau jauh apabila
masih ngotot bilang bahwa bangsa ini sudah merdeka, tentu kita sudah pasti
merdeka dari belenggu para penjajah, namun bangsa Indonesia masih belum merdeka
dari dilema problematika bangsa sendiri. Inti dari puisi ini adalah Indonesia
sebagai negara yang sudah merdeka, tetapi mengapa kok masih banyak masalah?.
Seperti pada kalimat “Ekonomi tak kunjung membaik”. Memangnya apa yang
sedang terjadi kepada perekonomian di Indonesia, apakah sedang bobrok-bobroknya?
Tentu, karena di tahun ini masih dilanda oleh virus corona atau biasa disebut
Covid-19. Jangankan perihal ekonomi saja yang sedang rapuh, pendidikan,
kematian, kedokteran, bahkan pun dari hal yang paling basic-pun makan
saja teramat sukar.
Puisi sepenggal merdeka menggambarkan tentang kondisi Indonesia
pada saat ini yang sedang ditimpa setumpuk badai permasalahan. Ibarat sebuah
kapal yang terhantam amukan arus lautan, namun masih teguh untuk berlayar. Pada
kalimat “Di bulan merdeka tanggal merdeka” menggambarkan keadaan
Indonesia dalam memperingati hari Kemerdekaan Indonesia. Makna yang terkandung
dalam puisi sepenggal merdeka tidak lain ialah sebuah seruan yang mencerminkan
bagaimana kondisi Indonesia dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Mau
menyambut hari kemerdekaan kok masih gini-gini aja?. Walaupun di puisi ini ada sebuah kata yang
masih sulit untuk ditafsirkan, seperti pada kalimat “Kurcaci asing telah
datang”.
Meskipun terdapat beberapa maksud yang sulit untuk ditangkap, namun
puisi ini layak untuk diterbitkan. Dengan mengambil tema tentang kemerdekaan,
puisi sepenggal merdeka menjadikan sebuah peringatan kepada seluruh rakyat
Indonesia bahwa kita harus bersama-sama bangkit untuk menjadikan kemerdekaan
Indonesia yang sebenar-benarnya. Bukan hanya merdeka dari para penjajah,
melainkan merdeka dengan usaha meringankan beban permasalahan yang dihadapi
bangsa Indonesia sekarang maupun di masa mendatang.

0 Comments