Andai saja dia tidak berbuat begitu, mungkin aku dan Rahman sudah didera dengan bara api Jahanam. Tak mampu kubayangkan jika lidah panasnya menerkam-nerkam. Yang menyibak ke dalam jiwa dan badan. Hingga mendidihkan ujung kaki sampai kerongkongan. 

Tak ada lapar, tak ada kenyang, yang ada hanya cinta. Di sinilah aku dan Rahman tinggal selama abadan abada. Hubunganku dengannya telah terjalin sejak di dunia. Berlanjut hingga di mahsyar, ketika semua manusia diadili oleh sang hakim maha adil yang ditemani jaksa penuntut paling jeli.

Saat itu, di mahsyar, aku dan semua orang mulai dari zaman Adam sampai manusia paling bungsu sedang menunggu giliran hasil persidangan. Satu persatu dari kita dipanggil untuk menerima laporan pamungkas. Laporan itu merupakan sebuah tiket dua persinggahan terakhir, menembus Eiden atau menarik ke Jahanam. Beratus tahun aku menunggu namaku dipanggil, selama itu pula aku melihat berjuta insan riang mukanya. Dan berjuta lagi risau rupanya. Riang karena laporan pamungkasnya mengantarkan mereka mengetuk pintu Eiden.

Mereka yang risau adalah manusia yang mendapat laporan bahwa amalnya lebih sedikit dari dosanya. Dosa-dosa itu mengantarkannya pada lembah-lembah Jahanam. Terdengar dari sana suara tangisan, teriakan, dan rintihan penyesalan. Suara kucuran darah mengalir dari lubang-lubang tubuh mereka juga mengikis gendang telinga. Aku pun hanya bisa bergidik ketakutan, menelan ludah dalam-dalam, dan mengernyitkan mata walau hanya mendegarnya. Berharap aku tak menjadi salah satu dari mereka.

Mendadak aku terperanga ketika mendengar nama kecil pemberian ayahku dipanggil. Sekejap aku melongokkan mata, membiarkan kedua bibirku menganga.  Degupan dag dig dug jantungku seketika mengencang tak teratur. Aku mencoba melangkahkan kakiku yang gemetar menghampiri sang jaksa pembawa laporanku. Tepat di depannya aku memejamkan mata sambil mengulurkan tangan kananku. Sedikitpun aku tak berani membuka mata atau mengintip, sebab diriku telah diselimuti rasa takut. Hatiku tak hentinya berdo’a, meskipun tuhan tak mungkin mendengar do’a hambanya, berharap bahwa laporanku dapat membawa diriku menuju Eiden. Saat laporan itu benar-benar berada dalam genggamanku, barulah sedikit demi sedikit aku mulai membuka kelopak mataku.

Ketika aku menatap laporan itu. Betapa tertegunnya jiwaku ketika kudapati bahwa amalku tak mampu melampaui dosa-dosaku. Padahal kekurangan amalku hanya sejengkal saja. Rasa sesal mulai menghampiri relung hatiku. Tak butuh waktu lama derai air mata pun membasahi kedua pipiku. Saat itu aku merasakan sedalam-dalamnya sedih yang tidak pernah kujumpai semasa di dunia.

Dengan napas yang tersengal-sengal, isak tangis yang tersenggak-senggak. Aku berlari tanpa arah mengelilingi lautan manusia di mahsyar. Sambil berteriak memanggil nama ibu dan ayahku, “Ayaaaahhh, Ibuuuu. Tolonglah anakmu”. Berkali-kali aku memanggil mereka, namun nihil, tak ada jawaban. Akhirnya, rasa putus asa menghentikan langkah kakiku. tiba-tiba kakiku lemas tak sanggup menyangga tubuh penuh dosa ini. Aku berlutut, sambil terus mengalirkan air mata. Bayang-bayang Jahanam mulai merasuki sela-sela pikiranku. Bayangan api beribu derajat merenggut seluruh tubuhku. Bayangan kapak memecah rongga otakku. Bayangan tombak menusuk mulutku hingga tertembus anusku. Dan saat ini aku hanya menunggu giliran peleburan diriku di Jahanam.

Ditengah kekalutan mahsyar, seorang laki-laki dengan raut muka masam menghampiriku. Ia adalah Rahman, teman dekatku di bumi. Nasibnya jauh lebih buruk ketimbang aku. Hanya sejengkal amal yang mampu menutup segunung dosanya. Dapat dipastikan bahwa dirinya akan direbus oleh Jahanam.  Ia pasrah akan takdirnya menjadi teman selamanya para Iblis. Pada intinya aku dan dia sama-sama menunggu panggilan Jahanam.

Kemudian aku dan Rahman berjalan bersama menuju lembah Jahanam, raut kesedihan, penyesalan, tak mungkin hilang dari wajah kami selama perjalanan. Tepat di depan lembah Rahman mulai meloncat ke dalamnya. Seraya melemparkan sejengkal amal yang masih dimilkinya. Tak dinyana sejengkal amal itu merubah kedudukan amalku melebihi dosa-dosaku. Seketika raut wajahku berubah menjadi gembira dan sumringah. Tiket Eidenku sudah tertebus dengan sejengkal amal Rahman.