Indonesia sebagai negara hukum yang berprinsip demokrasi memiliki pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Salah satu peran penting pancasila yaitu sebagai representasi jiwa, moral, dan budaya bangsa Indonesia. Gagasan pancasila sebagai dasar negara merupakan hal yang diperjuangkan oleh mbah Hasyim melalui peran KH. Wahid Hasyim dalam BPUPKI dan PPKI. Pada akhirnya pancasila disahkan menjadi dasar Negara Indonesia pada sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945 dengan merubah sila pertama menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
K. H. Wahid Hasyim memiliki nama lengkap Abdul Wahid Hasyim bin Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul ‘Ulama) bin Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin Abdurrahman (Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya) bin Abdul Aziz bin Abdul Fattah bin Maulana Ishaq bin Ainul Yaqin (Sunan Giri). Beliau lahir pada Jum’at Legi (menurut kalender Hijriyah) tanggal 5 Rabi’ul Awal 1333 Hijriyah, sedangkan menurut kalender masehi beliau lahir pada 1 Juni 1914 M. Beliau merupakan putra dari pasangan K. H. Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah. Berdasarkan garis keturunan dari ayahnya, beliau merupakan keturunan dari salah seorang sultan dari kerajaan demak, yaitu Sultan Sutawijaya. Sedangkan silsilah dari jalur ibu bersambung hingga Sultan Brawijaya V yang merupakan salah seorang Sultan dari Kerajaan Mataram. K. H. Wahid Hasyim merupakan anak yang gemar membaca syair-syair arab dan menghafalkannya. Pada usia 5 tahun beliau sudah khatam belajar al-Qur’an dengan ayahnya, selain itu beliau juga memulai pendidikan di Madrasah Salafiyah di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Pada usia 12 tahun beliau sudah tamat dari madrasah dan ikut mengajarkan ilmu dari kitab ‘Izzi kepada adiknya, A. Karim Hasyim tiap malam.
Setelah lulus dari Tebu Ireng, K. H. Wahid Hasyim melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo milik mertua ayahnya. Di sana beliau belajar kitab-kitab dari Kiai Hasyim dan Kiai Chozin Panji. Namun beliau hanya bertahan selama 25 hari dan kemudia pindah ke pondok pesantren Lirboyo, Kediri. Beliau belajar di Lirboyo hanya sehari, setelah itu beliau memutuskan untuk belajar di rumah. K. H. Wahid Hasyim sangat ahli di bidang kesusastraan Arab, namun sampai usia 15 tahun beliau belum bisa baca tulis menggunakan huruf latin. Beliau dapat memahami cara untuk menulis dan membaca tulisan latin hanya dalam waktu singkat. Pada tahun 1932 -saat itu umur beliau sekitar 18 tahun, beliau berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama bersama sepupunya Muhammad Ilyas. Selama dua tahun belajar di Tanah Suci, beliau sudah mampu menguasai tiga bahasa asing, yaitu Arab, Inggris, dan Belanda.
Setelah pulang dari Tanah Suci, beliau mengajarkan ilmu yang telah diperoleh. Beliau memasukkan sistem madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren dengan membuat tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Beliau juga ingin memodernisasi pesantren baik dalam bidang sosial, keagamaan, pendidikan, dan politik. Para santri dianjurkan untuk belajar dan aktif dalam organisasi. Melalui IKPI (Ikatan Pelajar Islam) yang didirikan pada tahun 1936, beliau mengorganisasi para pemuda dan membentuk karakter pemuda yang cakap dan berintelektual.
K. H. Wahid Hasyim juga aktif dalam pergerakan yang mendukung kemerdekaan, karena menurutnya suatu pembaharuan tidak akan berhasil sebelum suatu negara merdeka. Pada tahun 1939 beliau menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) sebuah Federasi politik dan ormas islam pada masa pendudukan Belanda. Saat peralihan menjadi pendudukan Jepang, beliau ditunjuk menjadi ketua Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) menggantikan MIAI. Menurutnya perbedaan santri dan pelajar barat adalah dalam aspek pengetahuan umum. Oleh karena itu, pengetahuan umum mulai dikembangkan di pesantren. Gerakan perubahan tersebut semakin mudah dilaksanakan semenjak beliau menjadi Pengurus Besar NU.
Kecakapan K. H. Wahid Hasyim tidak hanya berfokus pada organisasi keagamaan, beliau juga aktif dalam BPUPKI dan PPKI yaitu sebuah organisasi yang bergerak untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Beliau memiliki peran yang cukup penting dalam perumusan pancasila sebagai dasar negara, terlebih lagi dalam konteks menempatkan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. selain kemampuan beliau dalam menelaah nilai teologis dan filosofis terhadap rumusan Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945, beliau juga mampu menegaskan bahwa umat islam sebagai mayoritas menunjukkan inklusivitasnya terhadap seluruh Bangsa Indonesia yang majemuk. Hal tersebut menimbulkan konsep Negara Indonesia sebagai negara beragama bukan sebagai negara teologis. Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama pada kabinet Hatta, Natsir, dan Sukiman. Hasil dari pemikiran beliau mengenai nilai agama dan pancasila menjadikan organisasi Nahdlatul ‘Ulama membuat sebuah Deklarasi Hubungan Pancasila dengan Islam pada Musyawarah Nasional Alim ‘Ulama NU(MUNAS NU) di Sukerejo, Situbondo tanggal 16 Rabi’ul Awal 1404 H / 21 Desember 1983 M.
K. H. Wahid Hasyim meninggal dunia di Cimahi, Jawa Barat pada 19 April 1953. Beliau meninggal di usia yang cukup muda, yaitu pada usia 38 tahun. Beliau dikaruniai enam orang anak dari seorang istri yang bernama Nyai Hj Sholihah Bisri. Beliau dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 Tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, K. H. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdakaan Nasional.

0 Comments